Akikah Anak Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam

Akikah Anak Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam

Akikah anak laki-laki dan perempuan menurut Islam sesuai sunnah bisa diartikan suatu proses penyembelihan/pemotongan kambing yang ditujukan untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia berupa anak (putra atau putri) kepada pasangan yang telah menikah. Beberapa riwayat hadits menyebutkan bahwa bagi anak laki-laki disunahkan untuk menyembelih dua ekor kambing, sedang bagi anak perempuan hanya menyembelih satu ekor kambing. Berikut pemaparan oleh www.pelangiaqiqah.co.id.

Akikah Anak Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam

Pengertian Akikah/Aqiqah

Berbicara mengenai akikah, bahwa secara etimologis aqiqah yakni proses memotong atau dalam bahasa Arab al-qat’u atau sebutan bagi rambut yang di kepala bayi ketika baru dilahirkan. Secara fiqih, akikah merupakan hewan yang akan disembelih untuk mewujudkan rasa syukurnya kepada Allah SWT yang telah mengaruniai buah hati baik laki-laki maupun perempuan. Dalam bahasa Jawa akikah disebut dengan istilah kekahan.

Menurut dalil yang diungkapkan Samurah bin Jundub mengatakan, bahwa Rasulullah telah bersabda:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama” [HR Abu Daud, no. 2838, at-Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165]

Al-Hasan bin ‘Ali al-Shan’ani menyebutkan bahwa hadits tersebut di atas diriwayatkan oleh Imam Yang Lima (Ahmad, Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasai dan Ibn Majah) dan disahihkan oleh al-Tirmidzi, al-Hakim dan Abdul Haq (Fath al-Ghaffar, 2:1127).

Hadits tersebut diatas dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, Syaikh al-Albani dan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab al-Insyirah Fi Adabin Nikah halaman 97.

Dalam Musnad Ahmad yang ditahqiq oleh ‘Abdul Qadir al-Arnaut, dan kawan-kawan, para pentahqiq/peneliti kitab tersebut mengatakan bahwa hadits ini sahih. (Musnad Ahmad bin Hanbal, 33:318). Begitu juga Muhammad Nashiruddin al-Bani,  beliau mensahihkan hadits ini. (Irwa al-Ghalil, 4:386). Lebih lengkap riwayat hadits tersebut baca disini dan maksud tergadai baca disini.

Selanjutnya, dari Asiyah yang mengatakan bahwa, Rasulullah bersabda:

عن عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُمْ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ  شَاةٌ (رواه الترمذي وصححه

“Dari Aisyah r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing yang besar dan anak perempuan satu kambing” HR. al-Tirmidzi

Mnurutnya al-Tirmidzi hadis di atas adalah shahih. Hadis di atas berbicara perbedaan jumlah kambing yang disembelih pada acara akikah anak laki-laki dan perempuan menurut Islam.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah/Akikah Anak Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam

Pelaksanaan aqiqah/akikah anak laki-laki dan perempuan menurut Islam yang telah disepakati ulama secara sahih yakni di hari ketujuh dari kelahiran bayi tersebut. Kesepakatan ini berdasarkan dari dalil hadist sahih yang diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundub di atas. Beliau menungkapkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda seorang anak yang telah terikat dengan aqiqahnya, maka ia akan disembelihkan aqiqah di hari ketujuh dan sekaligus diberikan nama kepada bayi tersebut. Meski demikian, jika ada yang terlewat serta belum mampu melaksanakannya di hari ketujuh, maka bisa diundur pelaksanannya di hari ke 14. Bahkan jika memang belum bisa juga melaksanakannya, maka di hari 21 bisa dilaksanakan atau kapan saja mampu untuk melaksanakannya. Namun tidak ada riwayat hadist yang menyebutkan aqiqah selain hari ke-7. Baca penjelasan waktu aqiqoh lebih detil.

Pelaksanaan aqiqah di hari ketujuh adalah didasarkan atas anjuran. Jika memang tidak dapat dilakukan pada hari tersebut, lalu bagaimana solusinya? Mengenai hal ini, para ulama memiliki beberapa pendapat yang berbeda-beda. Berikut adalah rangkuman yang dikutip dari sini:

  • Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, waktu aqiqah dimulai dari kelahiran. Tidak sah aqiqah sebelumnya dan cuma dianggap sembelihan biasa. Dengan demikian, jika seorang ibu yang mengalami keguguran, maka aqiqah tidak perlu dilaksanakan. Meskipun usia bayi tersebut sudah lebih 4 bulan di dalam kandungan ibunya
  • Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, waktu aqiqah adalah pada hari ketujuh dan tidak boleh sebelumnya.
  • Menurut ulama Malikiyah bahwa batasan aqiqah sudah gugur setelah hari ketujuh. Sementara itu, ulama Syafi’iyah membolehkan aqiqah sebelum usia baligh, dan ini menjadi kewajiban sang ayah.
  • Menurut ulama Hambali bahwa jika aqiqah tidak dilaksanakan pada hari ke-7 (tujuh), maka disunnahkan dilaksanakan pada hari ke-14 (empat belas). Jika tidak sempat lagi pada hari tersebut, boleh dilaksanakan pada hari ke-21 (dua puluh satu).
  • Menurut ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa aqiqah tidaklah dianggap luput jika diakhirkan waktunya. Akan tetapi, dianjurkan aqiqah tidaklah diakhirkan hingga usia baligh. Jika telah baligh belum juga diaqiqahi, maka aqiqahnya itu gugur dan si anak boleh memilih untuk mengaqiqahi dirinya sendiri

Mengenai masalah waktu ibadah aqiqah, memang ada beberapa pendapat tersebut di atas. Hadist yang kuat memang menyebutkan pelaksanaan aqiqah adalah pada hari ke-7. Mengenai hal itu Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc berpendapat “agar aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh, tidak sebelum atau sesudahnya. Lebih baik berpegang dengan waktu yang disepakati oleh para ulama“.

Adapun pendapat yang membolehkan aqiqah di waktu selain hari ketujuh menyadarkan pada prinsip bahwa agama Islam merupakan agama yang memberikan kemudahan dan tidak memberikan kesulitan. Seperti firman Allah SWT pada Al Qur’an:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

Ayat tersebut di atas lebih dekat dengan keringanan pada saat puasa Ramadhan. Baca penjelasannya disini.

Rangkuman tentang Aqiqah

Beberapa hal berikut ini merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan Akikah Anak Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam:

  1. Sunah hukumnya untuk memberikan nama dan mencukur rambut seorang anak di hari ketujuh kelahirannya. Seperti misalnya, jika seorang anak lahir di hari Ahad, maka pelaksanaan aqiqahnya dilakukan di hari Sabtu.
  2. Anak laki-laki disunatkan untuk menyembelih dua ekor kambing dan seorang anak perempuan 1 ekor kambing untuk pelaksanaan aqiqahnya.
  3. Orang tua disunahkan untuk melakukan aqiqah kepada anak-anaknya, namun pelaksanaannya juga bisa dilakukan oleh anggota keluarganya yang lain.
  4. Pelaksanaan aqiqah dalam Islam ini hukumnya sunnah.

Demikianlah beberapa hal yang anda ketahui mengenai  prosesi akikah anak laki-laki dan perempuan menurut Islam yang bisa anda ketahui. Semoga bermanfaat.

Akikah Anak Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam
4.6 (92.33%) 73 votes

3 pemikiran pada “Akikah Anak Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam

    • Berdasarkan penelusuran informasi di internet, admin menemukan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakad. Hukum tersebut disampaikan oleh para ulama (jumhur ulama) berdasarkan hadist shahih. Pelaksanaan aqiqah yang lebih afdhol juga sebaiknya pada hari ke-7 sejak kelahiran si bayi. Hal ini berdasarkan hadist shahih juga. Oleh karena itu admin disini menuliskan artikel https://pelangiaqiqah.co.id/2018/01/hukum-aqiqah-menurut-islam/ dan di https://pelangiaqiqah.co.id/2017/12/pengertian-aqiqah-menurut-bahasa-dan-istilah/. Nah untuk menjawab pertanyaan saudari Siti tentang apa hukum aqiqah sesudah menikah, maka sebenarnya jawabannya ada di dalam hati nurani saudari (pertimbangkan mana yang lebih utama, istikhoroh jika perlu). Namun, menurut penulis berdasarkan riwayat hadist pelaksanaan aqiqah sesudah dewasa adalah dha’if (baca artikel pada link di atas). Penulis tegaskan kembali bahwa hukum aqiqah adalah sunnah mua’akad. Jadi tidak ada dosa ketika tidak mampu melaksanakannya. Alloh tidak menghendaki kesulitan bagimu. (QS. Al-Baqarah:185). Semoga membantu. Wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat